![]() |
| Takdir |
Begitu banyak syubhat atau keragu-raguan yang tersebar di masyarakat, baik yang dihembuskan oleh syaithan maupun orang-orang musyrik atau kafirin. Mereka telah menyalahkan makna takdir yang telah terjadi pada diri mereka sendiri yaitu dengan mengatakan “ini sudah suratan takdir atas apa yang menimpa pada diri kami”.
Lalu, apakah pernyataan seperti ini dibenarkan? Inilah pembahasan kita kali ini, menjawab syubhat mereka tersebut.
Segala sesuatu berjalan sesuai dengan takdir dan kehendak-Nya. Kehendak-Nya pasti terlaksana. Tidak ada kehendak bagi hamba-Nya melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Apa yang Dia kehendaki, pasti terjadi. Dan apa yang tidak Dia kehendaki tak akan terjadi.
Kehendak yang dimaksud di sini adalah kehendak yang bersifat Kauniyah, bukan Syar’iyyah. Kehendak Kauniyyah adalah kehendak Alloh menyangkut segala sesuatu yang terjadi di alam raya ini; tidak ada yang terjadi dan terwujud kecuali dengan kehendak Alloh. Sedangkan kehendak Syar’iyyah adalah kehendak Alloh menyangkut perintah dan larangan-Nya; tidak semua yang dikehendaki baik yang diperintahkan dan dilarang oleh Alloh terwujud sebagaimana dikehendaki-Nya. Tentang Masyiatullah yang mutlak ini Alloh menjelaskannya dalam beberapa firman-Nya. Di antaranya adalah firman Alloh dalam surat al-Insan ayat 30: “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali bila dikehendaki Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Juga dalam surat At-Takwir ayat 29: “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Alloh, Rabb semesta alam.”
Begitu juga dalam surat Al-An’am ayat 111: “Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Alloh menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”
Bagaimana bisa seorang muslim menyangka bahwa di dalam wilayah kekuasaan Alloh ada sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya. Keliru sekali orang yang berpandangan bahwa Allah ber-Masyiah atas keimanan orang-orang kafir. Namun kehendak orang-orang kafir itu mengalahkan kehendak Alloh sehingga mereka pun tetap kafir.
Yang benar, takdir semua makhluk telah ditulis oleh Alloh sejak 50.000 tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Termasuk di dalamnya tentang siapa-siapa yang mendapat hidayah, siapa-siapa yang sesat, siapa-siapa yang beriman, dan siapa-siapa yang kafir. Semua tidak ada yang terlewatkan. Semua telah ditulis oleh Alloh di Lauh Mahfuzh. Sudah suratan takdir.
Kemudian kalimat “sudah suratan takdir” jika tidak dipahami dengan baik, bisa membuka pintu kesesatan. Pintu yang telah dilalui oleh Iblis dan orang-orang musyrik. Hal ini sebagaimana digambarkan oleh Alloh dalam beberapa firman-Nya, yaitu dalam surat Al-Hijr ayat 39-40: “Iblis berkata, “Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang benar-benar mukhlis di antara mereka.”
Hal yang senada juga disebutkan dalam surat Al-An’am ayat 148: “Orang-orang yang mempersekutukan Alloh, akan mengatakan, “Jika Alloh menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun”.”
Dan juga dalam surat Az-Zukhruf ayat 20: “Dan mereka berkata, “Jikalau Alloh Yang Maha Pemurah menghendaki tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat).”
Di hadapan Alloh, Iblis menyatakan bahwa Alloh-lah yang menghendaki dirinya menjadi makhluk yang sesat. Pernyataan Iblis ini tidak jauh beda dengan pernyataan orang-orang musyrik. Mereka menyatakan bahwa kemusyrikan dan kemaksiatan mereka dan bapak-bapak mereka tidak akan terjadi tanpa Masyiatullah.
Syubhat “sudah suratan takdir” yang dibawakan oleh Iblis dan orang-orang musyrik ini bisa menimbulkan kerancuan jika kita tidak mengembalikan bagaimana memahami permasalahan ini kepada para ulama yang terpercaya.
Para pensyarah Kitab Akidah Thahawiyyah menjelaskan bahwa Iblis dan orang-orang musyrik menyebut Masyiatullah tidak pada tempatnya. Mereka menyebut Masyiatullah bukan ketika mentauhidkan Allah atau menetapkan takdir Alloh. Sebaliknya mereka berhujjah untuk kemaksiatan yang mereka lakukan, saat mereka menolak perintah-Nya. Mereka berhujjah dengan Masyiatullah atas keridhaan dan kecintaan-Nya. Mereka hanya mencari pembenaran.
Ini seperti ketika pada masa kekhilafahan al-Faruq ‘Umar bin Khaththab ada seorang pencuri ditanya alasan perbuatannya, dia menjawab bahwa perbuatannya itu telah dikehendaki oleh Alloh. Al-Faruq pun memotong tangan pencuri itu. Saat pencuri itu berontak Al-Faruq tidak mempedulikannya. Dan setelah tangan pencuri itu terpotong barulah al-Faruq mendengarkannya. “Mengapa kau potong tanganku, aku mencuri karena dikehendaki oleh Alloh?!” kata pencuri itu. Al-Faruq menjawab, “Aku juga memotongnya karena dikehendaki oleh Alloh.” Dan pencuri itu pun hanya bisa membisu setelah mendengar jawaban al-Faruq.
Untuk syubhat Iblis para ulama menyatakan; Pertama, kita tidak mengambil agama kita dari Iblis. Kedua, benar bahwa Alloh mentakdirkan kesesatan untuk Iblis, tetapi Alloh tidak pernah memaksa Iblis untuk sesat. Kita lihat kembali bagaimana Alloh memerintahkan Iblis untuk bersujud kepada Adam, namun ia enggan melakukannya. Iblis bermaksiat atas kehendaknya sendiri, dan Alloh ber-masyiah atasnya (baca: membiarkannya terjadi). Tentu saja Alloh mengancamnya, dan Iblis telah bersiap untuk menanggung akibat kemaksiatannya.
Peristiwa ini tergambarkan dalam surat shod ayat 75-78: “Alloh berfirman, “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” Iblis berkata, “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” Alloh berfirman, “Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah kaum yang diusir, sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.”
Untuk syubhat orang-orang musyrik, para ulama menyatakan bahwa Alloh telah mengutus para Rosul untuk tiap-tiap umat. Para Rosul mendapatkan tugas dari Alloh untuk memberi peringatan kepada mereka supaya mereka hanya beribadah kepada Alloh dan menjauhi thaghut. Para Rasul menunjukkan kepada mereka jalan menuju keridhaan Alloh. Selanjutnya, terserah kepada mereka apakah mereka mau menempuhinya atau tidak. Hal ini sebagaimana yang telah Alloh firmankan dalam surat al-Insan ayat 3: “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.”
Kesimpulannya, Alloh tidak pernah menghendaki atau ridha dengan kekafiran dan kemaksiatan yang telah mereka pilih sendiri. Hanya saja Alloh membiarkan itu terjadi untuk hikmah yang banyak.
Kalimat “sudah suratan takdir” hanya boleh diucapkan saat kita ditimpa musibah. Dengan mengucapkannya saat itu, musibah berat yang menimpa akan terasa lebih ringan. Dengan meyakininya menghadirkan kesabaran pun lebih mudah.
Ini seperti yang dikatakan oleh Nabi Nabi Adam ‘alaihis salaam, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari saat Nabi Musa ‘alaihis salam mengajukan penyesalannya atas kenyataan Nabi Adam dikeluarkan dari surga dan diturunkan ke bumi. Nabi Adam pun menjawabnya dengan menyatakan bahwa kenyataan pahit itu, musibah itu, sudah ditulis oleh Alloh jauh sebelum beliau diciptakan.
Sumber : http://blog.fajrifm.com/syubhat-%E2%80%9Dsudah-suratan-takdir%E2%80%9D.html

No comments:
Post a Comment